Pada tahun 2016 silam, saya berkesempatan menginjakkan kaki di tanah “Maren” yaitu Kota Tual yang terletak di Kepulauan Kei, Provinsi Maluku. Berdasar informasi yang diperoleh, pasca kemerdekaan Republik Indonesia, Tual pernah ditetapkan sebagai ibukota Kabupaten Maluku Tenggara. Lalu, pada tahun 2007 Kota Tual ditetapkan sebagai salah satu daerah otonom di Maluku.

Siang itu, kami bertolak dari Ambon menuju Bandar Udara Karel Sadsuitubun di Ibra, Langgur yang berlokasi di Pulau Kei. Perjalanan jalur udara ditempuh  dalam kurun waktu kurang lebih sekitar 1 jam 25 menit. Berdasar informasi, wilayah Tual terdiri dari gugusan 66 pulau yang meliputi 3 gugusan pulau yaitu Kur, Tayando Tam dan Dullah dimana hanya 13 pulau diantaranya yang berpenghuni, sedangkan 53 pulau lainnya tidak berpenghuni.

Kota Tual tercatat dalam sejarah sebagai “Kota Niaga Maritim” yang merupakan penyangga niaga Makassar dan Tidore pada tahun 1430 silam. Sedangkan pada Zaman Belanda, Tual merupakan ibukota afdeling yang membawahi 4 onderfdeling yaitu Kepulauan Kei, Aru, Tanimbar, Kepulauan Barat Daya, Ner Guinea Selatan dan Boven Digul.


Secara budaya, Kota Tual memegang erat adat istiadat melalui filosofi hukum adat “Larwul Ngabal”. Filosofi  hukum adat ini lantas menjadi motto kota Tual. Nilai yang terkandung berupa ajaran untuk memelihara ketertiban dan hubungan keakraban antar penduduk dan menanamkan rasa gotong royong atau yang lebih dikenal sebagai budaya Maren yang sekaligus menjadi semboyan masyarakat Tual, serta memupuk kesadaran masyarakat untuk menjaga keharmonisan alam.

Sistem “Hawear” merupakan upaya menjaga kelestarian alam melalui pengoptimalan pemanfaatan sumberdaya alam secara bijak dan berkelanjutan. Intinya, faktor budaya dan adat istiadat diharapkan dapat digunakan untuk menjaga keseimbangan lingkungan dan mendukung terciptanya keadaan yang harmonis dan kondusif. Adapun penduduk asli Tual ialah suku Kei.

Kota kembar yang dimiliki kota Tual diantaranya ialah Maladewa sehingga tidak mengherankan bahwa objek wisata yang dimiliki kota Tual pun sangat menawan. Sebut saja Pantai Difur, Pantai Nam Indah, Teluk Un, Danau Fanil, Pantai Duroa, Pulau Adranan, Pulau Kaimeir, Pulau Ohoimas, Pulau Bair, Pulau Warat Neu, dan Pantai Werajo. Tidak hanya objek wisata alam, kota Tual juga menyuguhkan objek wisata sejarah semisal Museum dan Benteng Pertahanan Duroa, Museum Perahu Belang dan Jembatan Fair.

Pantai Difur merupakan pantai dengan pasir putih halus yang terhampar di sepanjang garis pantai. Begitupun halnya dengan Pantai Nam Indah. Teluk Un memiliki keindahan yang dihiasi dengan pepohonan mangrove. Selain itu terdapat desa tradisional bernama Taar yang masih menjaga budaya leluhurnya dengan baik dan terletak tidak jauh dari Teluk Un. Adapun masyarakat di desa Taar masih memegang tradisi “Sasi”. Sedangkan Danau Fanil merupakan objek wisata tirta yang kerap digunakan sebagai sumber air bersih bagi kebutuhan masyarakat kota Tual.


Pantai Durosa pun tidak kalah cantiknya karena pantai ini merupakan pantai berpasir putih halus. Pulau Adranan merupakan salah satu objek wisata unggulan kota Tual dengan daya tarik pantai berpasir putih halus. Terumbu karangnya sangat indah dan dapat dilihat melalui permukaan air laut yang jernih. Pantai ini juga kerap digunakan sebagai tempat untuk melakukan ritual membersihkan diri di Bulan Safar oleh masyarakat setempat.

Selanjutnya, terdapat Pulau Kaimeir yang memiliki potensi wisata bahari yang menawan serta peninggalan sejarah berupa meriam kuno. Selain itu terdapat Pulau Ohoimas yang merupakan objek wisata unggulan yang berpotensi untuk dikembangkan. Daya tarik utamanya ialah wisata bahari. Demikian halnya dengan Pulau Bair yang memiliki daya tarik tersendiri berupa teluk dengan air yang jernih dan tenang serta vegetasi mangrove dan tebing batu yang mengelilinginya.

Pulau Warat Neu pun tidak kalah cantiknya. Pulau ini memiliki daya tarik utama berupa pantai yang berpasir putih halus dan merupakan rumah bagi satwa burung. Setiap sore pulau ini selalu ramai dengan kicauan burung. Selain itu terdapat Pantai Werajo yang memiliki pasir putih yang indah.

Selain objek wisata berupa pemandangan alam, terdapat beberapa situs bersejarah diantaranya Museum dan Benteng Pertahanan Duroa yang merupakan situs bersejarah peninggalan Jepang. Serta terdapat Museum Perahu Belang (Kora-Kora) yang merupakan perahu tradisional masyarakat kei. Adapun Jembatan Fair merupakan penghubung antara Pulau Fair di Kota Tual dan Pulau Kei Kecil. Pemandangan yang indah dapat dijumpai ketika sunset tiba dan momen ini sangat sayang untuk dilewatkan.

Selain objek wisata, Tual juga memiliki kuliner khas berupa “Pisang Embal” yaitu pisang goreng dengan balutan tepung embal yang berbahan dasar singkong. Saya baru kali pertama mencicipi pisang goreng jenis ini dan langsung jatuh cinta. Biasanya pisang goreng embal tersebut juga dapat dimakan dengan sejenis sambal alias dabu-dabu.

Presiden Republik Indonesia, Bapak Ir. Joko Widodo dalam pidato kenegaraannya pada tahun 2017 silam menegaskan bahwa PDRB di wilayah timur Indonesia khususnya Maluku mulai menunjukkan peningkatan yang berarti. Hal ini mengindikasikan perekonomian di Maluku telah mulai berkembang. Kedepan diharapkan terjadi upaya pergeseran kontribusi PDRB khususnya ke wilayah timur Indonesia. Oleh karenanya dibutuhkan komitmen yang tinggi dari berbagai pihak guna mewujudkan secara bertahap keseimbangan pertumbuhan ekonomi antar wilayah yang saling memperkuat.


Arah kebijakan pembangunan wilayah perlu difokuskan pada upaya mempercepat pengurangan kesenjangan dengan mendorong transformasi dan akselerasi pembangunan di wilayah timur Indonesia, menjaga momentum pertumbuhan wilayah dan meningkatkan kinerja pusat pertumbuhan wilayah. Pada akhirnya, pengembangan wilayah diarahkan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi wilayah yang berkelanjutan dan inklusif yang diarahkan pada peningkatan kualitas hidup masyarakat di seluruh wilayah Maluku pada umumnya dan kota Tual pada khususnya. Mari baronda ka Maluku!

** Artikel Lomba

Nama Pendaftar : Yesi Hendriani Supartoyo
Daerah Asal Pendaftar : Bogor
Alamat Pendaftar : Dramaga
Alamat Akun Sosial Media Pendaftar : https://web.facebook.com/yesi.hendriani.1