Budidaya Singkong Beracun sebagai Bahan Baku Embal

Tanaman umbi-umbian seperti ubi jalar dan ubi kayu tumbuh subur di sini. Hal tsb mempengaruhi pula budaya masyarakat Kei dalam menyantap embal, hasil pangan yang diolah dari tanaman ubi kayu/singkong. Uniknya embal lebih terasa lezat jika diolah dari singkong yang mengandung asam sianida tinggi (HCN). Proses pemisahan racun dengan umbinya dilakukan secara tradisional dan turun temurun. Hasil akhir adalah adonan embal siap olah, sedangkan racunnya bisa diproses ulang sebagai bahan baku farmasi.

Tuber plants such as sweet potatoes and cassavas thrive in this area. It affects the Kei community’s culture in eating embal, which is a food that is made of cassava. What is unique about embal is that it will taste better if it is made from cassavas that have a high cyanide acid (HCN). The poison separation process with its tuber is done traditionally from generation to generation. The result is a ready to use embal batter, while the poison can be reused as a pharmaceutical raw materials.

Perbedaan Singkong Beracun Atau Tidak

Lihatlah pada pucuk tanaman. Jika pucuk daunnya berwarna gelap, maka dipastikan ia mengandung asam sianida tinggi (HCN). Sedangkan pada tanaman singkong biasa, pucuk daun hingga batangnya berwarna segar kemerahan. Sebenarnya semua singkong mengandung HCN, hanya saja kadarnya berbeda-beda. Cara paling aman adalah mengupas umbi tsb dan cuci bersih dengan air. Jika dalam beberapa waktu ia berwarna kebiruan maka menunjukkan intensitas HCN di dalamnya.